Selasa, 01 Maret 2011

KEJARLAH YANG BAIK (Lukas 10:38-42)

BAHAN KHOTBAH
MINGGU 6 MARET 2011
GEREJA BATAK KARO PROTESTAN

Introitus : Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang
kuanggap rugi karena Kristus (Filip 3:7)
Pembacaan I : 1 Korintus 13:1-13.
Pembacaan II : Lukas 10:38-42.
Tema : Kejarlah Yang Baik.

LATAR BELAKANG
1. Kalau kita melihat cerita tentang kasih yang diceritakan Yesus kepada orang Farisi dengan memakai perumpamaan orang Samaria yang baik hati (ayat 25-37), maka sepintas lalu apa yang dikatakan Yesus kepada Marta sangat kontradiksi, sebab Marta sibuk melayani sebagai bentuk perhatian dan kasihnya kepada Yesus sebagai tamunya, yang seharusnya mendapat pujian dari Yesus, tapi justru sebaliknya. Tapi kalau kita melihat secara mendalam, maka yang kita dapat simpulkan apa yang ditekankan Yesus kepada Marta sehubungan dengan prilaku Maria adalah cinta kasih secara vertikal. Sedangkan kasih yang ditunjukkan oleh orang Samaria adalah cinta kasih secara horisontal.
2. Lukas menunjukkan kepada pembacanya tentang dua karakter dan prioritas, yang diperankan oleh Marta dan Maria. Karakter yang ditunjukkan Marta adalah sibuk menerima Tamu (Yesus), tapi karakter Maria adalah pendiam, tenang, sederhana dan mau duduk bersama dengan Yesus, dan inilah proritas Maria. Padahal kalau kita lihat tentang “tata krama” menerima tamu, apa yang dilakukan marta adalah baik, tapi dalam persektif Yesus serta kacamata keselamatan, apa yang dilakukan Maria yang di puji Yesus.
3. Yang ditekankan Yesus adalah manusia harus ada keterikatan pribadi dengan Yesus selaku Mesias dan Tuhan. Dalam arti kata manusia harus ada waktu untuk mendengarkan pengajaran Yesus (firman Tuhan), sebab firman Tuhan memberi kita hidup (band. Matius 4:4), dan untuk itulah Yesus datang di dunia ini, yaitu untuk melayani, bukan untuk dilayani. Memberi kehidupan kepada manusia, bukan manusia memberi kehidupan pada Yesus. Dialah kehidupan itu. Jadi kedatangan Yesus di rumah Lazarus bukan untuk makan, tapi untuk mengajarkan akan kerajaan Sorga/keselamatan.
4. Karena Marta sibuk melayani, akhirnya dia jatuh ke dalam dosa. Dosa yang dilakukan oleh Marta, dia merasa capek sendiri dan merasa terbeban karena tidak dibantu oleh Maria, sehingga Marta mengadu pada Yesus, kedua : Pekerjaannya ingin dipuji oleh Yesus, dan mejatuhkan Maria dihadapan Yesus. Supaya Yesus melihat dan tahu Maria ini orang pemalas.
5. Perlu ketahui kejadian ini, terjadi di rumah Lazarus, di kampung Betania dekat Yerusalem. Dalam refrensi yang lain, ternyata Yesus sudah beberapa kali mampir di rumah Lazarus. Kebutulan dalam kedatangan Yesus sekali ini, Lazarus tidak berada di rumah, sehingga kedatangan Yesus diterima oleh saudaranya, yaitu Marta dan Maria.
6. Satu catatan, apa yang dilakukan Marta, bukan berarti salah dan tidak memperhatikan kehadiran Yesus, akan tetapi itulah cara Marta memperhatikan Yesus. Marta sangat percaya akan ke-Tuhanan Yesus. Oleh sebab itu dalam kitab Yohanes ada pengakuan Marta tentang Yesus adalah kehidupan manusia, walaupun manusia telah mati (Yohanes 11:26-27). Sehingga, sebenarnya teguran Yesus kepada Marta bukan untuk menyalahkan Marta, tapi untuk mengingatkan kepada Marta agar Marta jangan terlalu sibuk dengan hal-hal jasmani, walaupun itu penting. Tapi yang paling penting adalah hati yang terbuka menerima Yesus dan memprioritaskan Yesus. Jadi maksud Yesus mengatakan itu kepada Marta (band. Ayat 41) agar jangan sampai hal-hal yang jasmani memperbudak Marta, sebab kalau ini yang terjadi maka Marta akan jatuh kedalam kesibukannya sendiri dan terabaikan hal yang hakiki dalam kehidupan orang yang percaya pada Yesus, yaitu mendengarkan pengajaran Yesus atau FirmanNya.
7. Yang terbaik, dan ini tidak bisa diambil oleh siapapun adalah mendengarkan firman Tuhan (pengajaran Yesus), sebab dalam pengajaran Yesus ada kehidupan yang sebenarnya. Dalam hidup bersama-sama dengan Yesus ketidakbenaran dan kekuatiran tidak dapat menggerogoti kehidupan manusia. Dalam hidup bersama dengan Yesus, manusia sanggup menjalankan apa yang dikehendaki oleh Yesus Kristus.

APLIKASI
Kalau kita melihat dalam kejadin pasal 1”apa yang dciptakan Allah, baik adanya” tapi karena manusia (kita) telah hidup dalam dosa, akhirnya apa yang baik, yang telah diciptakan Allah dirusakkan oleh manusia. Bagitu juga sekarang ini cukup sulit untuk melihat dan melakukan kebaikan. Oleh sebab itu yang terjadi pada diri kita adalah melakukan kebaikan dalam ukuran/kacamata manusia (kita), bukan ukuran Tuhan. Padahal baik untuk manusia, belum tentu baik untuk Tuhan. Oleh sebab itu, dalam khotbah kita saat ini penekanannya adalah baik untuk kita terlebih untuk Tuhan. Jadi pertanyaan kepada kita adalah bagaimana agar kita mendapat yang baik menurut ukuran Tuhan ? dan apa-apa saja itu ? kalau kita melihat bahan khotbah kita (Lukas), maka yang baik adalah hidup dalam keterhubungan dengan Tuhan Yesus, sebab dalam kita hidup bersama dengan Yesus, kita akan mendengarkan FirmanNya, lalu dari kita mendengarkan Firmannya, kita akan mempraktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita akan mempraktekkan apa yang baik menurut Tuhan. Dan yang baik menurut Tuhan adalah mempraktekkan kasih. Dan kasih inilah yang sekarang agak sulit dipraktekkan. Kalaupun ini dipraktekkan, kita akan merasa dirugikan (Dalam ukuran manusia/dunia), sebab kalau ini dipraktekkan, akan ada pengorbanan waktu, tenaga dan uang.
Kita harus hidup dalam kasih, sebab ini adalah “hukum” (band. Matius 22:37-40). Hukum ini diambil dalam Perjanjian lama, yaitu Ulangan 6:4-5, yang menekankan agar bangsa Israel menyembah kepada satu Tuhan saja, yaitu Tuhan yang telah membebaskan bangsa Israel dari tanah pebudakan di Mesir. Oleh sebab bangsa Israel harus mengasihi Tuhan dalam segala pribadinya (totalitas hidup). Dengan kata lain, jangan ada Allah lain dalam kehidupan bangsa Israel. Begitupun dalan Imamat 19:18, menekankan tentang tidak menuntut balas atas kejahatan orang lain dan mengasihi musuh.
Jadi yang baik adalah menjalankan kasih, sebab dengan kita menjalankan kasih, diri kita bersatu dengan Yesus Kristus dan orang lain. Sebab dalam kita hidup dalam kasih maka kepada Yesus saja yang kita kasihi dan yang kita sembah, begitu juga sepanjang kita hidup dan berkarya di dunia ini, Yesus saja jadi pengharapan kita. Oleh sebab itu kita tidak berani lagi melakukan apa yang tidak berkenan kepada Tuhan (yang menurut dunia adalah baik). Ini sanggup kita lakukan karena Frirman Tuhan yang membungkus kita dan Roh Kudus yang mengajarkan kita melakukan apa yang baik yang berkenan kepada Tuhan. Begitu sanggup kita tunjukkan dan jalankan (mempraktekkan) kasih karen Roh Kudus hidup dalam diri kita. Sifat (praktek) kasih mengasihi, karena kita hidup dalam satu komunitas , yaitu keluarga, gereja dan masyarakat (tempat tinggal dan tempat bekeja). Dalam kita mempraktekkan kasih, dalam satu komunitas maka yang harus kita lakukan adalah rendah hati, lemah –lembut, sabar dan cinta akan kedamaian (band. Epesus 4:3). Dalam kita hidup dalam saling mengasihi satu dengan yang lain, berarti kita hidup dalam satu tubuh, sehingga apabila ada perkalahian atau kurang sepamahaman satu dengan yang lainnya, tidak sampai di bawa ke pengadilan, tapi kita sanggup menyelesaikan sendiri, kita saling memaafkan. Kenapa ini bisa kita lakukan, karena sifat Tuhan Yesus telah menjadi bagian hidup kita, dengan kata lain, kita hidup dalam Yesus, dan Yesus hidup dalam diri kita. Perlu diketahui bahwa kasih sifatnya tidak berkesudahan, tidak temporer. Oleh sebab itu marilah kita kejar dan mendapatkan yang baik itu, lewat kita mempraktekkan kasih dan tetap dengarkan firman Tuhan.
Amin.

Pdt. Steven Kumenit, STh.,M.Min.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar